Permohonan Maaf untuk Sang Penenteng Senjata

dulu, orang-orang menenteng senjata … tak peduli apakah itu sepotong bambu atau alat tempur alakadarnya … meninggalkan anak istri, berpindah dari satu tempat ke tempat lain … melewati gunung, sungai, lautan, tebing nan terjal, berliku-liku… terseok-seok menahan lapar dan dahaga

dulu, terbiasa waspada, karena musuh ada di mana-mana … dor…dor…dor…bum!… sesekali dentuman senjata terdengar … ketika mereka lupa, bahwa istri dan kekasih setia … menunggu di desa nun jauh di sana … ketika mereka lupa, bahwa mereka lapar dan haus

karena, saat suara senjata menyalak-nyalak … hanya satu yang mereka ingat, kalahkan musuh! hingga mereka dapat kabarkan … pada teman-teman di kampung, “kita sudah merdeka bung”… ketika itu, Allah memang bersama orang-orang yang berani

dulu, banyak bayi lahir di medan perang yang bergelora…yang memporakporandakan desa, dengan darah berlimpah ketika sang koloni memperkosa hak kita dengan membabibuta … ketika sanak keluarga menunggu resah, hasil jerih payah sang pejuang

darah yang terbuang, membasahi ribuan desa dan kota …ternyata tidak sia-sia, karena akhirnya sang pejuang … mencapai cita-cita, memberi kabar kepada sanak keluarga dan tetangga, “kita sudah merdeka bung”

tak terasa, kabar baik itu bertahan hingga kini … hingga anak cucu dapat bebas menikmati jerih payah … mereka yang memonopoli senjata itu

namun, kami sekarang malu tiada terkira … karena mengisi pembangunan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme di mana-mana … padahal, dulu sang penenteng senjata tidak pernah mengajarkan itu … yang mereka ajarkan, hanya satu …jadilah kaum militan yang jujur … yang sama-sama bekerja keras tuk raih pembebasan negeri

karena itu, kami ingin sampaikan terima kasih … untuk para penenteng senjata yang polos itu … sekaligus kami memohon maaf yang tak terhingga … karena kami telah menodai perjuanganmu … dengan pekerjaan sia-sia ketika pembangunan dan politik kami biarkan penuh sampah berserakan

semoga Allah segera menerpa jiwa kita … dengan ruh-ruh para penenteng senjata itu yang militan dan polos … karena kami rindu suasana itu …

Oleh: Dedy Rahmat

Bandung, 17 Agustus 2008

Goresan Pena untuk Hari Kemerdekaan

+

~ oleh dedyrahmat74 di/pada Agustus 17, 2008.

Tinggalkan Balasan